Blog Description Here

Di pelbagai bidang teknologi informasi, orang bekerja keras mengembangkan apa yang disebut ‘internetnya masa depan’. Tidak perlu lagi memasang mesin berdengung di bawah meja kerja. Yang dibutuhkan hanya sebuah layar, keyboard dan semacam ’stopkontak cerdas’.

Internet -dan penggunaan komputer- dalam waktu dekat mengingatkan kita akan situasi distribusi radio pada jaman dulu. Microsoft, industri piranti lunak raksasa, mengembangkan “komputasi awan” versinya sendiri. (Terjemahan Wikipedia- komputasi awan, bahasa dari Bahasa Inggris: cloud computing, adalah penggunaan teknologi komputer untuk pengembangan berbasis Internet.) Keuntungan konsumen jelas: memakai komputer makin murah dan hemat energi.

Internet bukan lagi cuma memberi informasi kepada para pengguna. Piranti lunak lengkap dan sistem operasional juga tersedia secara online. Dengan kata lain, internet dan semua yang terkait dengannya, menjadi terminal pusat pengaturan peralatan rumah tangga termasuk gas dan listrik.

“Yang dilakukan, tidak lain, mengirim semua yang dibutuhkan ke terminal yang ada di rumah Anda. Untuk itu dibutuhkan sambungan cepat. Karena itu di masa kini, semuanya berjalan lewat internet,” kata pakar teknologi informasi, Stevan Greve
Sambungan internet cepat menghubungkan antara peralatan rumah tangga sederhana dan sejumlah kecil super komputer yang bisa saja berada di berbagai penjuru dunia. Pelanggan tanpa perlu membeli atau menginstalasi program, tetap dapat menggunakannya.

Syarat utama, pengguna harus memiliki sambungan serat optik. Sebab hanya kabel tersebut yang secara sempurna menerima dan mengirim data, supaya komputer tidak berjalan pelan.

Tujuan utama dari cloud computing sesungguhnya dari komputansi awan justru terjadi pada perusahaan. Perusahaan biasanya iap tahun dipusingkan pengeluaran besar untuk membeli piranti keras dan lunak. Bila cukup membeli satu terminal, bukan saja lebih murah, tapi juga perlengkapan yang simpel lebih tahan lama.

Mengapa konsep ini bernama komputasi awan atau cloud computing? “Internet bisa dianggap awan besar. Awan berisi komputer yang semuanya saling tersambung. Dari situlah berasal istilah ‘cloud’. Jadi semuanya disambungkan ke ‘cloud’, atau awan itu,” kata Greve.

Dengan demikian konsumen kian untung karena hanya membutuhkan ruang kecil di bawah meja. Sementara komputer induk memerlukan perawatan berkala saja dan pengamanan jauh lebih ringan serta murah. Tak perlu repot melakukan update pemindai virus dan lain sebagainya. Semuanya sudah termasuk abonemen. Juga tidak ketinggalan, komputasi awan ramah lingkungan.

Bisa Ngadat
Sisi minus terbesar sistem, dialami pengguna individu rumah. Jika internet macet, misalnya penyedia jasa kelebihan beban, maka komputer ikut ngadat. Artinya, bukan saja tidak bisa internetan, tetapi komputer sama sekali tak bisa dipakai. Bagi pengguna besar seperti perusahaan, yang kebanyakan karena alasan keamanan, memiliki akses ke lebih dari satu penyedia jasa internet, masalah ini tidak begitu menyulitkan.

Sistem operasi Windows menghasilkan jutaan Euro bagi Microsoft. Mereka sejak lama mencoba mendalami fenomena komputasi awan dan tidak mau tergesa-gesa.
Namun pekan lalu, direktur Steve Ballmer mengumumkan perusahaannya dalam waktu satu bulan bakal meluncurkan Windows Cloud.

Dalam beberapa tahun ke depan kita semua berada di “awan-awan”.
Raksasa piranti lunak Microsoft mengumumkan Windows Azure, sebuah versi baru Windows yang lain dari biasanya. Disebut demikian karena Windows Azure adalah sistem operasi yang memanfaatkan konsep cloud computing alias berkomputer dengan memanfaatkan internet.
Apa maksudnya? Dengan Windows Azure, aplikasi akan dijalankan pada data center Microsoft dan bukan pada server sebuah perusahaan. Kemudian, pengguna bisa memanfaatkan aplikasi itu asalkan terhubung ke internet.

“Ini adalah transformasi dari piranti lunak kami dan transformasi dari strategi kami,” ujar Ray Ozzie, Chief Software Architect Microsoft.
Azure akan menempatkan Microsoft bersaing secara langsung dengan penyedia jasa serupa, seperti Amazon, Salesforce.com dan Rackspace.

Belum ada rincian mengenai harga ’sewa’ yang akan diterapkan Microsoft untuk Azure. Saat ini, Ozzie mengumumkan, Azure masih gratis bagi pengembang yang ingin mencobanya.

Microsoft pun berencana memanfaatkan Azure untuk berjualan beberapa piranti lunaknya yang biasanya dijual untuk digunakan pada server kantor. Semua piranti lunak Enterprise Microsoft, termasuk Exchange, dikabarkan akan menawarkan pilihan ini.

Jika sistem operasi ‘tradisional’ Microsoft seperti Windows Vista atau Windows 7 nantinya ternyata kurang ‘laku’, bisa jadi Azure akan menjadi masa depan bagi raksasa piranti lunak itu
Dengan cloud computing, user tidak perlu lagi mengupgrade server, membeli server baru, mengupgrade storage, dan biaya operasional yang tidak efisien lainnya. Bahkan, laporan yang kami terima, sekira 20 hingga 30 persen total belanja enterprise dipakai untuk biaya operasional dan pemeliharaan. Akses internet yang begitu gampang dicari juga murah, memungkinkan enterprise menekan angka operasional bagi enterprise yang umumnya hanya butuh transaksi

Jangan Pakai
Namun menurut Richard Stallman, pendiri Free Software Foundation dan pencipta sistem operasi GNU mengatakan penggunaan aplikasi berbasis web seperti Gmail dari Google “lebih parah dari kebodohan.” Cloud computing yang semakin populer dalam beberapa tahun belakangan ini adalah paradigma komputasi yang dipromosikan berbagai perusahaan teknologi besar termasuk Google, Microsoft dan Amazon.

Tetapi Stallman berpendapat lain, cloud computing “adalah sebuah kebodohan atau bahkan lebih parah lagi, cloud computing hanyalah sebuah kampanye marketing” yang bertujuan untuk menjaring semakin banyak pengguna ke dalam sistem tertutup.

Pendiri Free Software Foundation ini mengatakan bahwa pengguna komputer seharusnya menyimpan informasi mereka sendiri dan tidak mempercayakannya pada pihak ketiga. Larry Ellison, pendiri Oracle juga berpendapat sama, minggu lalu mengkritik bahwa cloud computing hanyalah sebuah “mode” dan “bualan.”

Ellison mengatakan bahwa mereka “telah mendefinisikan ulang cloud computing untuk mengikutkan semua hal yang sebenarnya sudah dapat dilakukan hari ini. Mungkin saya memang orang bodoh, tetapi saya tidak mengerti sedikitpun apa yang dikatakan banyak orang. Apa itu cloud computing? Cloud computing hanyalah sebuah bualan. Kapan kebodohan ini akan berakhir?”

Jumlah orang yang menyimpan informasi pribadi di server-server yang dapat diakses dari internet telah bertumbuh dan menjadi salah satu alasan utama melejitnya aplikasi-aplikasi Web 2.0. Jutaan pengguna kini meng-unggah data pribadi seperti email, foto dan bahkan data pekerjaan ke situs-situs yang dimiliki perusahaan lain seperti Google.

Ada juga kekhawatiran yang terus bertumbuh bahwa adopsi cloud computing oleh massal dapat melahirkan kekhawatiran privasi dan kepemilikikan di mana pengguna berpotensi tidak diperbolehkan mengakses datanya sendiri. Stallman yang merupakan seorang aktivis privasi di internet menyarankan pada pengguna untuk tetap menyimpan data di komputer mereka sendiri.

“Salah satu alasan mengapa Anda sebaiknya tidak menggunakan aplikasi web adalah karena Anda tidak memegang kendali. Menggunakan aplikasi web sama bahayanya dengan sebuah program proprietary. Lakukan komputasi di komputer Anda sendiri dengan sebuah aplikasi yang mendukung kebebasan.

Apabila Anda menggunakan sebuah program proprietary atau server milik orang lain, nasib Anda tergantung pada siapapun pengembang aplikasi tersebut,” tutur Stallman. (via LouCypher, gambar diambil dari Ascend Training)

Apabila Anda berpemikiran sama dengan Stallman, tetapi masih belum siap untuk meninggalkan aplikasi-aplikasi web 2.0 sama sekali, setidaknya pilihlah aplikasi yang mendukung standar terbuka. Google contohnya sudah berkomitmen untuk tidak mencegah pengguna menyalin data miliknya sendiri dengan menyediakan fitur untuk menyalin data di sebagian besar layanannya:
- GMail: gunakan POP atau IMAP

- Google Calendar: kunjungi http://www.google.com/calendar/exporticalzip untuk menyalin semua data kalender Anda dalam satu zip file
- Google Docs: untuk menyalin semua file yang Anda miliki, pilih semua dokumen yang Anda miliki dan pilih “Save as HTML (zipped)” dari “More Actions”
- Blogger: sudah menambahkan fitur export semua tulisan berikut komentar di versi beta Blogger
- Google Bookmarks: eksport sebagai file HTML

Riwayat web/pencarian web: ekspor sebagai RSS
- Google Reader: menyediakan fitur untuk export data RSS dalam bentuk OPML
- Google Contacts: menyediakan fitur ekspor ke dalam format CSV atau vCard
Saya tidak banyak menggunakan aplikasi-aplikasi populer lainnya seperti yang disediakan Yahoo atau Microsoft, tetapi apakah Anda tahu tentang aplikasi-aplikasi populer lainnya yang memungkinkan pengguna untuk melakukan ekspor datanya?

In on .

Katakanlah...bintang - bintang dan rembulan malam
perkenalkanlah diri kalian kepadaku
dan sapa lah aku
ini sudah lebih dari seribu malam
aku yakin kalian telah mengenalku
ceritakan kepadaku apa yang telah kalian saksikan
tentang kebiasaanku menghabiskan malam

Katakanlah...teman - teman malamku
buku-buku ku, pena malasku dan catatan - catatan pemikranku
aku yakin kalian begitu akrab padaku
beritahu aku dan jangan biarkan kecemasan menghambatku
ajari aku tentang keberhasilan - keberhasilan nenek moyang kita tempo dulu

Katakanlah...para pekerja malam
tempat tidur, bantal guling dan lampu gantung yang setia menemaniku
manjakan aku dan sayangi aku sebagai tuan mu
kalian tahu aku mencemaskan banyak hal pada malam hari
tenangkan aku dan paksa aku untuk menutup kelopak mata
agar aku tak lagi hidup segar bugar seperti bintang dan rembulan
biarkan aku melepas tubuhku untuk ku tiduri
aku ingin bertemu esok hari dan tak takut lagi pada matahari

Katakanlah...kalian semua
berbagi ceritalah kepadaku
bacakanlah buku kalian dan akan aku perdengarkan
untuk aku pelajari dan aku pahami
ceritakan tentang jalan panjang menuju langit yang abadi
dan yakini aku untuk melukiskan hidup yang tak kaku
agar aku bisa berjalan...
berjalan di jalan kebenaran

katakanlah...cemasnya malam
apa maksudmu dan apa yang kau inginkan
banyak hal yang harus aku perjuangkan
beritahu aku dan sirami aku
agar langit itu tersenyum dan bumi itu bangga
malam akan memelukku
pagi hari menjadi awal yang baru
dan saat matahari telah sembunyi
pimpin aku untuk mimpi yang baru
mimpi tanpa ke khawatiran
dan biarkan cemas berlalu .

- MaLLeNdRa -

In on .

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.

Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.

Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.

Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.

Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.

Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.

Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.

Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.

”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”

”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.

Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.

Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.

Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.

Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.

Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.

Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.

Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.

Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.

Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008~

In on .

Semalaman saya pergunakan untuk memberi pengarahan tentang hidup yang baik dan menceritakan hal yang lucu mengenai adik saya kepada teman sebaya saya di kantor...

tak habis pikir ternyata,saya mengetahui yang baik-baik itu tanpa saya kerjakan..saya mungkin besar mulut..tapi saya juga tidak mengerti,mungkin ini adalah anugrah atau juga sesuatu yang menakutkan.kadang saya sudah malas untuk berfikir dan mengandai-andai,saya adalah satu diantara kalian yang terburuk...ini mungkin panggilan yang saya bisa kerjakan.tak ada lain bercerita dan menulis tentang kebodohan dan kebohongan yang di sembunyikan dalam diri yang tidak penting untuk di bohongi.agaknya saya malas untuk segala hal..bahkan untuk hidup pun rasanya saya sudah tidak bergairah..hidup saya sudah hambar dengan harapan-harapan yang saya simbolkan menjadi fatamorgana agar semuanya bisa berlangsung dengan malas,semua sudah tidak ada rasanya lagi...tidak ada perjuangan yang saya lakukan untuk tujuan yang lebih baik,saya sering menulis dalam buku catatan-catatan saya " Saya sudah mati sejak awal " mungkin kalimat ini ada benarnya juga..ketika saya sudah menjadi orang yang pasrah dan tidak hidup.semua semakin membosankan,saya adalah pria bertubuh kecil dengan isi kepala yang mondar-mandir kebingungan tanpa jelas penyebabnya..saya mengenal monster yang menggerogoti diri saya pribadi..bukan siapa-siapa melainkan pemikiran saya sendiri..hidup memanglah singkat bila kita acuhkan...tapi terlalu lama saya berfikir semakin cepat hidup saya menjadi mustahil..mungkin saya adalah sebuah pesan untuk orang - orang yang mengenal saya bahwa saya adalah omong kosong seperti yang di jabarkan pada lembaran-lembaran kertas yang saya pernah nodai..semua saya semangatkan tanpa keberhasilan sedikit pun.rasanya semua sudah jelas bahwa berhasil bukanlah bagian dari diri saya sendiri.seperti nya saya sudah menghitamkan seluruh waktu yang saya tempuh untuk tidak menjadi berarti karena saya buat kosong.saya tidak pernah menyalahkan siapa pun,ini hanyalah konsekuensi dari hidup menjadi mati tanpa harus pergi,saya tetap utuh tanpa perasaan semangat untuk hidup..dewasa ini saya hanya belajar tentang mempersiapkan kejenuhan untuk tidak bergerak lebih maju,saya stagnant dalam tempurung kecil berisi hal yang tidak pasti dan tidak berguna,hanya saja saya makan dengan berbagai rasa agar terlihat menyenangkan...saya semakin rapuh di usia yang seharusnya tangguh..saya terlihat bodoh di mana saya sedang merasa pintar dan saya menjadi miskin karena tidak mengharapkan menjadi kaya.

di ujung cerita saya kepada teman saya itu...saya memberitahukan kepadanya saya sedang menunggu waktu untuk kejatuhan hidup saya pribadi mungkin juga keluarga,mungkin adalah sebuah awal dimana hidup sudah hancur dan tidak bisa disusun..pada saat itu saya akan merintih,mungkin mengemis untuk membutuhkan pertolongan kalian...selanjutnya berproses menjadi semakin buruk dan tak lama kemudian saya di acuhkan oleh semuanya,bahkan oleh alam yang saya diami dan saya injak-injak ini..oleh kerena itu tidak ada satu orang pun yang mau menuliskan cerita tentang saya untuk dibicarakan,dan pesan hidup saya yang hambar itu sudah tidak akan didengarkan,saya di buang tanpa sejarah...bahkan dalam daftar penghuni bumipun saya tidak di temukan,nama saya sudah di hapus tanpa pertimbangan.saya takut tetapi mau tidak mau harus saya telan dan saya simpan.

bagi kalian : berfikirlah kembali....lakukan yang baik yang kalian bisa,jangan menunggu.Cintailah hidup dan mengerti artinya...isilah dengan kebaikan yang sepantasnya,jalankan aturan tuhan,kalian bukan lawannya maka tidak perlu menyombongkan diri dan menyepelekannya.karena dia mencintai kita maka cintailah dia.

- MaLLeNdRa -

In on .

"Nonsense" saya ingat kata itu sampai saat ini..saya tau,mungkin ia ada benar nya juga,di lihat dari caranya bicara..ia menggambarkan kesungguhan dan kemantapan pandangan tentang anaknya yang ia katakan "Nonsense" itu,seakan-akan ia telah membaca catatan-catatan hidup anaknya yang sudah pasti benar.Dia bukan tuhan juga bukan malaikat,Dia seorang ayah...yang melihat anaknya adalah bagian yang tidak berguna..atau mungkin mengecewakan.

Saya sedikit mengerti maksudnya..tapi saya juga menolak pandangannya tentang saya.mungkin dia kesal atau terlanjur kecewa..karena anaknya bukanlah sebuah alat yang menghasilkan dalam tanda kutip yang saya masih tolak persepsinya itu,menurutnya uang adalah hasil dari kata pintar yang ia bicarakan,atau hidup kaya adalah sebuah tujuan untuk mencapai batas-batas kebahagiaan.saya tidak menangkis secara kasar untuk persepsi semacam ini...karena setiap orang memiliki pandangannya masing-masing,tapi saya tetap menolak..bukan bermaksud untuk melawan,hanya ingin menunjukan pemikiran dari anaknya yang memang bukan berasal dari pemikirannya walaupun satu gen,tapi masih tetap beda kepala,yang sudah pasti beda juga isinya.Bagi saya uang adalah hal yang saya mudahkan walaupun kenyataanya memang sulit di dapatkan begitu saja,saya tidak mau berkutit tentang uang itu..bagi saya ada jalan yang lebih penting dari yang di cari oleh banyak orang itu,lebih tepatnya ada yang lebih mendahului uang untuk dipikirkan dan di usahakan secara keras..toh uang bukanlah hal mutlak yang bisa menentukan sebuah tujuan hidup dan cita-cita luhur.Uang hanyalah sebuah alat... " alat yang memang berkuasa penuh untuk hal yang berbau materi ",tapi bukan kepuasan batin dan kepuasan hidup secara mutlak.Saya hidup bukan untuk mencari makan tapi saya hidup untuk bertanggung jawab atas hidup yang saya dapatkan dan yang tuhan berikan.

Bukan berarti pemikiran saya yang semacam ini dapat memiskinkan saya atau menepis uang dari hasil nyata rejeki saya,hanya saja saya ingin mengesampingkan uang untuk ditunjuk sebagai yang nomor awal dari semua kebutuhan hidup yang memaksa untuk di penuhi.uang bukanlah cita-cita dan uang bukanlah sebuah peta hidup yang menentukan perjalanan hidup menuju sampai ke titik yang di cari.

Ada yang lebih intim dari hidup saya pribadi...otak saya adalah peta perjalanan nya dan saya adalah pejuang nya,saya sendiri yang akan menentukan dimana saya akan bersandar dari puluhan laut yang saya sudah arungi.hidup yang saya jalani adalah hidup saya sendiri dan untuk orang banyak...tuhan mengirim saya ke dalam raga saya sendiri bukan untuk diselesaikan begitu saja...tetapi untuk dimengerti maksud dari hidup yang ia berikan,hidup adalah proses pembelajaran bukan proses menuju kekayaan akan materi,bukan juga untuk memenuhi semua kebutuhan ekonomi,tetapi untuk melakukan ke seimbangan bahwa hidup tidak untuk di sia-siakan,dalam hal ini..saya sendiri jauh dari kata sempurna...mungkin saya sudah rusak oleh perbuatan saya sendiri,dalam hal tanggung jawab untuk memenuhi ritual keagamaan saya bisa dikatagorikan ke dalam kelompok Nol Besar..seperti yang ayahku katakan ... "Nonsense".

In on .

Saya coba mendoakan arwah Saladin di depan makamnya, di sebuah ruangan di belakang Masjid Umayyah yang berumur lebih dari 12 abad itu di Damaskus. Tapi konsentrasi diri saya rasanya tak betul. Barangkali sesuatu telah mengganggu hati saya.

Makam itu –makam orang yang termasyhur dalam sejarah itu, orang yang besar jasanya itu, orang yang dipuji bahkan oleh musuh-musuhnya itu– terasa kusam. Seperti kesedihan yang dicoba disembunyikan, ruangan itu kelabu. Sebuah kubur dengan nisan yang tinggi tapi hanya tampil serasa kayu lapuk, logam yang aus. Sebuah ruang sekitar 4 X 6 meter, yang seperti kamar yang kehilangan peminat. Warna-warnanya hambar. Cahaya pudar. Sawang tebal. Debu. Orang tak akan tahu dengan segera bahwa di sinilah Sultan Saladin, pahlawan Islam dalam Perang Salib, terkubur. Hanya sebuah gambar kertas yang buruk –mungkin wajahnya– tergantung di dinding.

Makam memang tidak untuk dijadikan ruang pameran. Kubur memang hanya pertanda kesementaraan kita –juga keterbatasan seorang pahlawan. Tapi tidakkah manusia perlu berhenti sebentar dan mengenang? “Kenanglah segala yang baik,” kata sebuah baris Chairil Anwar, “dan cintaku yang kekal.” Tidakkah masa lalu punya sesuatu yang kekal, yang bisa diwakili dengan sebuah tanda, sebuah simbol, dengan sikap yang hormat?

Saya mencoba berdoa di depan makam Saladin di Damaskus, untuk arwahnya, juga untuk apa yang baik dalam sejarah –tapi saya merasa ada sesuatu yang meleset dalam ruang ini. Melangkah keluar, berjalan kembali ke lapangan terbuka di halaman dalam masjid, saya dengar suara penziarah-penziarah Syiah meraungkan tangis, di dekat peninggalan Hussein yang gugur di Kerbala berabad-abad yang lalu. Di tembok-tembok tinggi, masih tersisa bekas-bekas lukisan gaya Byzantium.

Masa lalu memang tidak mudah pergi meskipun kita seperti tak ingin menengoknya. Bahkan di salah satu tembok Masjid Umayyah yang dulu adalah Katedral Yahya Pembaptis yang dipermak jadi masjid yang indah di tahun 700-an itu, seorang sejarawan masih menemukan sisa inskripsi ini: “Kerajaan-Mu, ya, Kristus, adalah kerajaan abadi…”

Tapi jika masa lalu tak mudah pergi, dari bagian manakah dari Saladin yang akan datang kepada kita kini? Dari ruang makamnya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Kisah Saladin adalah kisah peperangan. Dari zamannya kita dengar cerita dahsyat bagaimana agama-agama telah menunjukkan kemampuannya untuk memberi inspirasi keberanian dan ilham pengorbanan –yang kalau perlu dalam bentuk pembunuhan.

Tapi sebagian besar kisah Saladin –yang tersebar baik di Barat maupun di Timur dari sejarah Perang Salib yang panjang di abad ke- 12 itu– adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah. Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187. Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah juga, yang dilakukan Saladin bukanlah menjadikan penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan sebagian besar mereka, tanpa dendam, meskipun dulu, di tahun 1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

“Anakku,” konon begitulah pesan Sultan itu kepada anaknya, az-Zahir, menjelang wafat, “…Jangan tumpahkan darah… sebab darah yang terpercik tak akan tertidur.”

Dalam hidupnya yang cuma 55 tahun, ikhtiar itulah yang tampaknya dilakukan Saladin. Meskipun tak selamanya ia tanpa cacat, meskipun ia tak jarang memerintahkan pembunuhan, kita toh tahu, antara lain dan film Hollywood sekalipun, bagaimana pemimpin pasukan Islam itu bersikap baik kepada Raja Richard Berhati Singa yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Kita sekarang juga mungkin takjub bagaimana masa lalu bisa melahirkan orang sebaik itu. Terutama ketika orang hanya mencoba menghidupkan kembali apa yang gagah berani dari abad ke- 12 tapi meredam apa yang sabar dan damai dari sebuah zaman yang penuh peperangan. Tapi pentingkah sebenarnya masa silam?

Dari makam telantar orang Kurdi yang besar itu, suatu hari di tahun 1970-an, saya kembali ke pusat Damaskus, lewat lorong bazar yang sibuk di depan Masjid Umayyah. Kota itu riuh, keriuhan yang mungkin tanpa sejarah.

-Majalah Tempo, l9 Januari 1991 -

In on .

Bagi para sobat yang menginginkan agar bisa melihat beberapa banyak pengunjung yang mengunjungi blog atau situs kita, kita bisa menggunakan whos.amung.us. Ini merupakan salah satu dari beberapa banyak web penyedia seperti ini. Menurut aku, ini lebih simple dan praktis. Berdasarkan pengalaman aku, kita tinggal copy paste di gadget javasript/html pada blog kita. Bagi sobat yang ingin memasang whos.amung.us begini caranya.
1. Kunjungi http://whos.amung.us/
2. Setelah halamannya muncul, lihat di bagian tengah, ada script preferred code.
3. Copy scriptnya. Berikut adalah contoh scriptnya :



4. Login blog, menuju ke tata letak >>> elemen halaman. Tambah gadget, pilih html/javascript.
5. Pastekan scriptnya. Jangan lupa di simpan.

Bagaimana? mudah dan simpelkan? Semoga sobat berhasil untuk mencobanya. Semoga bermanfaat.

In on .

Sukardal, 53, tukang becak mati gantung diri, karena becaknya tgl 2 juli 1986 disita petugas tibum. Seorang dari sekian ratus ribu yang kehilangan mata pencarian di indonesia. ia mati tapi tidak membisu. SUKARDAL menggantung diri pada umurnya yang ke-53.

Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.

Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.

Tapi ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak, “Saya mau bunuh diri …. Saya mau bunuh diri ….”

Dan benar: Sukardal kemudian menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu,” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Dan pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.

Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia kini adalah soal kecil. Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa….

Penderitaan manusia?

Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.” Dan Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?

Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang seharga Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian): “Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Becak saya, kata Sukardal. Ada kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.

Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang lahad.

Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak di tahun 1884 dan kalah dan terkubur:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.
Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera . . .
Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum….

Sukardal meminta, dengan leher terjirat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.

Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah. Sukardal telah lewat setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi ia, yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta, toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu. Dan hidup kita, kata seorang arif bijaksana, terbuat dari kematian orang-orang lain yang tidak membisu.

- Majalah Tempo, Edisi. 21/XIIIIII/19 – 25 Juli 1986 -

In on .

KADANG-KADANG saya berpikir, apa gerangan yang ada dalam pikiran bapak saya beberapa saat sebelum ia ditembak mati. Kadang-kadang saya ingin membayangkan, ia menyebut nama ”Indonesia” di bibirnya, atau ”Indonesia merdeka”, tapi tentu saja ini satu imajinasi klise, dan sebab itu tiap kali muncul cepat-cepat saya stop. Bukan mustahil bapak ketakutan di depan regu tembak pasukan pendudukan Belanda itu. Atau ia pasrah? Yang agaknya pasti, beberapa puluh menit, atau beberapa puluh detik kemudian, seluruh ketakutan (atau sikap pasrah, atau jangan-jangan kecongkakan yang tampil seperti keberanian) pun punah: peluru-peluru menembus batok kepalanya. Darah muncrat, ia roboh, tak akan pernah pulang lagi.

Di tengah perkabungan, seluruh keluarga kami ketakutan dan menangis. Hanya ibu yang teguh: seperti tiang rumah yang ajaib. Ia menangis tapi ia menenangkan kami semua dan mengambil alih persiapan pemakaman dan perkabungan yang tergesa-gesa itu.

Kini saya mencoba mengerti kenapa ibu dapat demikian kuat. Ia mungkin sudah tahu, hidup suaminya akan berakhir seperti itu, atau sedikit lebih baik ketimbang ditembak mati. Ibu telah menyaksikan bapak keluar-masuk penjara; ia bahkan menyertai bapak ke pembuangan nun di Digul, di Papua, yang tak terkirakan jauhnya. Adakah ia ikhlas? Ibu tak pernah berbicara tentang suaminya dengan kekaguman kepada seorang pejuang; ia hanya sesekali berbicara tentang sikap keras hati laki-laki itu: ada saat-saat ia seperti bertapa buat menetralisir musuh-musuhnya (yang tak pernah dijelaskan kepada saya siapa), ada saat-saat ia meninggalkan rumah untuk sebuah rapat gelap di atas perahu, ada saat-saat ia tak putus-putusnya mendengarkan radio. Selama itu, ibu tak pernah berbicara tentang ”Indonesia”.

Barangkali karena bagi generasi aktivis politik masa itu—yang terlibat langsung dalam pergerakan nasional sejak awal abad ke-20—”Indonesia” sudah dengan sendirinya hadir dalam pikiran, sehingga mulut tak perlu mengucapkannya lagi. Atau kata ”Indonesia” dengan sendirinya sebuah perlawanan bagi kata ”Hindia Belanda”. Karena setiap saat dalam aktivitas politik masa itu adalah perlawanan, kata ”Indonesia” sudah tersirat ketika orang siap masuk penjara. Atau dibuang. Atau ditembak mati.

Ibu membesarkan sisa anak-anaknya yang belum dewasa dengan praktis: mereka harus makan dan bersekolah. Hampir hanya itu. Dalam percakapan keluarga kami sama sekali tak ada pesan untuk cinta tanah air. Tapi saya tumbuh, dan saya kira juga saudara-saudara sekandung saya, dengan ingatan tentang bapak—dan bersama itu, diam-diam, ”Indonesia” pun menongkrongi diri kami, melibatkan kami. Artinya jadi sangat berarti. Setidaknya saya tak bisa membayangkan diri saya hidup tanpa pertautan dengan ”Indonesia”.

Saya yakin, saya tak sendirian. Bersama yang lain-lain, saya tak akan bisa merumuskan dengan fasih apa arti ”Indonesia” bagi saya. Tapi saya melihat teman-teman saya yang tanpa merumuskan apa pun berdiri menyanyikan Padamu Negeri seraya siap untuk melakukan tindakan besar bagi orang banyak di negerinya—misalnya melawan mereka yang menindas. Saya melihat Upik dan Udin yang berangkat ke Aceh untuk membantu mereka yang terhantam tsunami dan memasang bendera merah-putih kecil di ransel mereka. Saya mengenal Tati dan Toto yang—meskipun tak menyukai apa saja yang ”politik”—berkaca-kaca matanya ketika mendengar Indonesia Raya dengan musik yang agung.

Apa yang mendorong mereka demikian? Mungkin karena tanah air adalah ingatan dan harapan yang menyangkut tubuh: harum padi yang terkenang, rasa rempah yang membekas, deras arus yang tak bisa dilupakan, suara ayah yang memuji, lagu ibu yang sejuk, batuk kakek, dan cerita-cerita kanak yang mengendap dalam kesadaran. Juga harapan: rumah kelak akan dibangun, anak-anak akan beres bersekolah, karier akan dicapai. Juga harapan akan melakukan sesuatu yang berarti.

Tapi tentu saja ada mereka yang menolak itu semua—atau tak merasa terpaut dengan tanah air yang mana pun. Saya kira, mereka yang bersetia kepada gagasan ”Darul Islam” yang tak berpeta bumi itu adalah contoh yang baik; mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa bertaut ke masing-masing tempat. Mereka tak bertanah air, sebab tanah air adalah bagian dari bumi dan badan, sedang mereka yakin bahwa hukum—yang bagi mereka adalah segala-galanya—tak terpaut pada bumi dan badan, ruang dan waktu tertentu. Tak akan mengherankan bila ”Indonesia” bagi mereka tak berarti apa-apa. Geografi mereka sederhana: sebuah tempat adalah bagian dari wilayah musuh atau wilayah diri. Tak ada yang lain.

Kita tahu mereka siap untuk mati, untuk ditembak mati. Tapi betapa berbedanya dengan mereka yang merasa terpaut dengan sebuah tempat hidup dan tempat mati. Mungkin sekali di depan regu tembak itu bapak saya tak menyebut nama ”Indonesia” dengan tekad utuh. Mungkin sekali ibu saya bekerja dengan tekad untuk anak-anaknya bukan untuk masa depan negeri ini. Tapi bagi saya mereka seperti kebanyakan kita: bagian dari sesama, yang hidup fana, di sebuah masa, di sebuah tempat, dan tak pernah bisa ditiadakan dengan hukum dan senjata.

~Majalah Tempo Edisi 17 Agustus 2009~

In on .

- kita harus bergerak atau kita akan di tabrak -

Lepas...seperti kosong,semakin tidak mengerti dan mulai tidak berarti. berfikir bebas dan tidak terbatas justru menjadi semakin kandas. mimpi harus diragukan karena yang hidup bukanlah angan-angan. muda menjadi tua adalah proses yang tidak pernah menjadi sempurna. sekarang atau nanti dan merdeka atau mati.. adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi.
hidup lebih baik bukanlah suatu hal yang sudah pasti..yang harus kita lakukan adalah berani.mau tak mau kita harus bertaruh untuk rugi..karena keberhasilan bukanlah milik kita sendiri.namun untuk berani kadang-kadang kita harus mempermalukan diri sendiri.
kita cendurung lebih banyak berfikir dan merencanakan tanpa banyak melakukan apa yang kita anggap baik.......dan semakin banyak berfikir justru membuat kita semakin tumpul...keputusannya adalah sama antara iya dan tidak,keraguan justru semakin terlihat dan mendekat..menjadikan kita setengah isi setengah kosong,yang kalau dibiarkan justru membuat kita semakin tidak perduli.memperkira-kirakan
adalah langkah yang paling mudah......dan menunggu adalah jawaban yang paling banyak kita lakukan.
aku sudah capek berfikir,nyatanya aku mendapati bahwa aku tidak seberuntung yang aku perkirakan.....Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras.Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.(Thomas A. Edison ) ....ternyata berfikir bukanlah suatu pekerjaan yang dapat merubah segalanya...oleh karena itu malakukan adalah hal pertama yang harus dikerjakan,setelahnya berfikirlah agar dapat mengerti dan berhasil..agar semuanya bisa berjalan lebih baik.
kita adalah diri kita sendiri..seribu tahun pun tidak akan bisa merubah keadaan yang kita alami.perbaikilah yang menurut kita menghambat...dan mimpi itu bukanlah suatu tujuan melainkan suatu pekerjaan yang harus dilakukan........Nasibmu adalah kumpulan dari tindakanmu, dan kumpulan dari apa yang sanggup engkau lakukan. Tidak ada lagi. (Mahatma Gandhi).
kita harus bergerak atau kita akan di tabrak...oleh karenanya belajarlah untuk terus berhasil karena kegagalan ternyata adalah teman yang hampir sering kita jumpai.Kenyataan hidup mengajarkan, bukan peluang yang menciptakan kemauan,tetapi kemauanlah yang menciptakan peluang. (John C Maxwell)

" aku adalah aku,dan aku sedang berproses untuk menjadi aku "

In on .